Minggu, 18 Oktober 2015

Jalan Thamrin Jakarta 70-an

Ketika berkunjung ke toko buku +Gramedia Artha Gading, saya menemukan buku berjudul Jakarta 1950-1980 karya Scott Merrilees. Buku gede ini menarik minat saya, apalagi pas melihat foto-foto yang ada di dalam buku ini, mata saya langsung berbinar-binar.

Saya penyuka sejarah. Jadi, senang banget melihat foto-foto jadul yang ada di buku Jakarta 1950-1980. Hampir sebagian besar adalah foto yang belum pernah saya lihat. Nah, berikut ini foto-foto jalan Thamrin, Jakarta pada 1970-an. Ingat! Jalan Thamrin cuma ada di Indonesia. Sekarang ini jalan Thamrin kembali gersang, karena ada proyek monorel. Sebelumnya sempat teduh, karena ada sejumlah pohon.

Kalo ngelihat foto-foto ini, rasanya saya pengen kembali ke masa dulu...

Minggu, 06 November 2011

"NGGAK PEDULI FASILITAS UMUM, YANG PENTING GUE UNTUNG"

Itulah prinsip dagang di Indonesia ini. Yap! Ini memang berlaku cuma di Indonesia. Nggak peduli tempat usaha mereka di fasilitas umum, yang penting dagangan mereka laku dan mereka mendapatkan untung.

Perhatikan foto di bawah ini yang saya ambil beberapa waktu lalu, sebelum Idul Adha. Penjual hewan qurban dengan seenaknya menempatkan hewan-hewan qurban di fasilitas umum, kalo di foto ini adalah halte bus di depan Daarul Aitam, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Entah si pedagang hewan qurban ini bodoh atau masa bodoh, tidak mengerti kalo yang namanya halte bus itu adalah sebuah tempat umum untuk para calon penumpang bus yang menunggu bus yang akan ditumpangi mereka. Nah, jika halte ini digunakan sebagai kandang hewan-hewan qurban, lalu penumpang bus nunggu dimana?



Terkadang pedagang itu ngasal, khusus kebanyakan pedagang hewan qurban. Mereka seenaknya meletakkan hewan-hewan qurban. Kalo foto yang Anda lihat ini di halte, yang paling banyak para pedagang hewan qurban meletakkan hewan-hewan itu di trotoar atau taman, dimana kedua tempat itu adalah fasilitas umum.

"Ya, setahun sekali kan nggak apa-apa?" ujar salah seorang pedagang.

Memang sih setahun sekali, tetapi fasilitas yang rusak itu tidak bisa dikembalikan lagi seperti sediakala dengan mudah. Bau hewan tidak sehari-dua hari bisa hilang. Pagar yang ada ditrotoar atau tanaman-tanaman yang dimakan oleh kambing atau sapi tidak begitu saja tumbuh. Perlu waktu. Apakah para pedagang hewan qurban ini bertanggung jawab? Ya, enggak juga.

Sepertinya memang diperlukan ketegasan dari aparat, termasuk +Tib. Fasum J. P Satpol PP DKI untuk mengamankan fasilitas umum dari kerusakan yang disebabkan oleh oknum, yang memang cuma memikirkan keuntungan pribadi. Atau jangan-jangan Satpol PP juga turut andil membiarkan kondisi ini carut marut? Semoga tidak...

cc +Pemda DKI Jakarta

Rabu, 03 November 2010