Kamis, 21 Januari 2010

DEMI MOBIL SESUAP NASI

Kata orang, tinggal di Jakarta kudu berani. Nggak malu, tapi no problemo kalo kita malu-maluin. Yang peting perut bisa kenyang. Sayangnya, prinsip tersebut malah menjerumuskan manusia menjadi orang yang melanggar norma-norma, termasuk norma agama. Dosa, menjadi sesuatu yang biasa.



Salah satu pekerjaan yang seringkali digosipkan penuh dengan kelicikan adalah tukang tambal ban. Lho, what's wrong with tukang tambal ban? Kalo cuma sekadar nambal ban barangkali nggak masalah. Namun yang terjadi, banyak tukang tambal ban yang melakukan tindakan kriminal guna mengejar perut supaya kenyang.

Modus operandi tukang tambal ban adalah menyebarkan paku atau benda-benda yang bisa membuat ban kempes ke jalan raya. Jaraknya seratus meter dari lokasi tempat mangkal tukang tambal ban. Paku disebarkan, ban kempes perlahan-lahan, dan tepat di jarak seratus meter dari paku-paku yang ditebarkan ada tukang tambal ban. Luar biasa bukan?

Banyak titik-titik dimana seringkali terjadi penebaran paku. Sudah banyak korban yang berjatuhan. Kondisi itulah yang membuat Polisi dan Departemen Perhubungan darat membuat sebuah tanda agar pengendara mobil atau kendaraan bermotor berhati-hati di lokasi yang biasa terjadi penyebaran paku.

all photo copyright by Brillianto K. Jaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar